Untitled Document


Letnan Jendral TNI Hotmangaradja Pandjaitan

Politik dan Keamanan

Dedikasikan Pengabdian Jiwa Raga Sepenuhnya Untuk Negara


Putra kedua Pahlawan Revolusi Mayjen (Anumerta) Donald Isaac Pandjaitan ini, Letnan Jenderal T.NI Hotmangaradja Pandjaitan, banyak mewarisi sifat-sifat kejuangan Ayahanda Hotmangaradja mendedikasikan pengabdian seluruh jiwa raga untuk negara, sampai-sampai kurang memiliki waktu untuk bergaul akrab dengan sesama orang Batak lainnya di Jakarta. Sebagaimana Ayahanda, yang pernah menjadi Atase Pertahanan RI di Jerman, demikian pula Hotmangaradja, semasa menyandang pangkat Kolonel pernah brrtugas di Jerman sebagai Atase pertahanan RI pada lahun 1997-2000, hingga kemudian masyarakat luas mengenalnya sebagai Kepala Dinas Penerangan mabes TNT Angkatan Darat berpangkat Bingadir Jenderal. Usai itu Hotmangaradja berturut-turut menjabat Wakil Asisten Pengamanan KSAD, Komandan Pusat Teritorial TNI AD, Aster KSAD, hingga Pangdam IX/Udayana sejak 26 Juni 2008. Lalu sejak 9 April 2010 Hotmangaradja yang semasa kecil biasa dipanggil Oce, rnenyerahkan Pataka Kodam IX/Udayana kepada penggantinya, untuk selanjutnya mengembang tugas baru sebagai Sekertaris Kementrian Koordinator Politik dan keamanan dengan menyandang Letnan Jendreal.

Hotmangaradja yang sangat membanggakan performa seorang TNI, sudah sejak mudanya bercita-cita menjadi tentara. Sama seperti abangnya Salomu Pandjaitan. Tetapi karena Ibunda Nyonya DI Pandjaitan hanya menginzinkan salah seorang saja dari kedua putranya mengikuti jejak kejuangan Ayahanda, maka, antara Oce dan Salomo kemudian mengadakan suit untuk menentukan pemenangnya. "Perjanjiannya kami berdua suit. Setelah dilakukan suit ternyata saya pemenangnya, dan saya berhak untuk mewujudkan impian menjadi tentara," kenang Oje, yang saat itu masih duduk di kelas dua SMA, tersenyum. Menjelang lulus SMA Oce kepada guru pembirnbinig lantas hendak masuk Akabri. Guru itu tentu tercengang, Bahkan marah karena Oce Sudah diarahkan kuliah di ITB Bandung Namun akhirnya cita-cita Oce dapat dimengerti.

Dari situlah pemilik inggi badan 180cm ini memutuskan masuk Akademi Militer Nasional. lulus tahun 1977. Pendidikan keras dari sang Ayah ternyata membentuk pribadinya yang pantang menyerah. Hotma gigih mengejar semua keinginan hingga ahirnya terbentuk menjadi seorang perwira miler yang handal dan profesional.

Hotma menempuh pendidikan militer ke Amerika Serikat untuk belajar mengenai kemampuan pasukan khusus selama setahun di IMET. Dari situ ia lantas membawa pulang gelar master Karena kcmampuannj'a di bidaqg rangtrdan tfteisnffaree, manmii Komandan Grup 111 Sanji Yudha Cijantung iru diangkat menjadi Atase Pertahanan RI di jerman, lagi-Iagi mengikuti jejak sang ayah.

Terpilihnya Hotmangaradja menjadi tentara tidak sia-sia. Selain berhasil melampaui karir Ayahanda dengan menyandang bintang tiga kedua putra Hotmangaradja, Abraham Sada Mangaiadja Pandjaitan dan Jeremiah Sesa Mangaradja Pandjaitan mewarisi jiwa kejuangan yang sama dengan Ompug Dolinya. Masing-masing berpangkat Lettu TNI dan Lerda TNI.

Hotmangaradja berkariei di satuan Komando Pasukan Khusus. Dia menjalani berbagai penugasan di Jalan maupun luar negeri. Jabatan yang pernah dipegangnya antara lain. Komandan Grup 3 Sandi Yudha Kopassus TNI Angkatan Darat, Komandan Korem 163/Wirasatya di Denpasar, Bab (tahun 2002, lalu Paban Opsdik Kodiklat, Kadispenad. Waaspam Kasad. Danpusterad, Aster Kasad, dan kini Pangdam IX/Udayana. Dia juga pernah menjadi komandan upacara pada HUT TNI tahun 2001.

Selain menjadi titisan atau warisan utama DI Pandjaitan, Hotmangaradja Panjdjaitan yang lahir pada tanggal 14 Oktober 1953 sebagai anak keempat di Rumah Sakit Tentara di Palembang itu memang sangat mengidolakan sang Ayah baik dalam mengabdi kepada negara. Tuban, dan masyarakat.

Hotmangaradja dan saudara kandungnya sama-sama melihat teladan Ayahnya sebagai seorang yang begitu berani. Bahkan untuk bangsa Ayahnya adalah seorang martir, sebab mati untuk negara. Figur Sang Ayah telah sedemikian rupa membentuk karakter mereka menjadi kuat, sekalipun sejak lama sudah kehilangan salah seorang orangtua.

Bekerja dan berdoa atau ora en labors adalah semboyan hidup D.I. Pandjaitan yang lantas diwariskan kepada anak-anak. Hotma tak akan pernah lupa akan semboyan tersebut. Semasa masih bermukim di Bonn, Jerman, di suatu pagi Oce sedang berjalan menuju sekolah. Sang Ayah yang berkendaraan mobil berangkat pula menuju kantor. tahu bahwa Oce belum berdoa, Mobil kemudian dihentikan lantas dari dalam ditegurnya "Kamu, Oce, sudah berdoa?" Oce pun segera meletakkan tas ranselnya ditepi jalan, lantas berdoa. Barulah usai berdoa Oce meneruskan perjalanan menuju sekolah, dan sang Ayah pun menuju kantor.

D.I. Pandjaitan merupakan figur ideal bagi keluarga. Dahulu, ketika membangun rumah di kawasan Blok M, Kebayoran Baru, D.I. Pandjaitan dengan sengaja menyediakan kamar-kamat untuk anak-anaknya. Maksudnya agar anak-anak dapat belajar di tempat yang semestinya, sehingga mereka memperoleh ilmu yang berguna bila terjun ke kancah masyarakat. Hotmangaradja merasa beruntung merniliki seorang Ayah yang hebat dan luar biasa. Sang Ayah telah memberi Hotmangaradja inspirasi tersendiri. Sedari saat masih bocah Oce sudah ingin menjadi tentara. Pada saat tembakan salvo usai, dan satu persatu jasad Pahlawan Revolusi diturunkan ke liang lahat di Taman Makam Pahlawan Kalibala. pada 5 Oktober 1965, dan kesempatan pun diberikan kepada masing-masing keluarga untuk mengadakan upacara pemakaman menrut agama masing-masing. selagi Keluarga D.I. Pandjaitan melakukan tabur tanah sebanyak tiga kali tiba-tiba saja terlihat Oce yang masih berusia 12 tahun berseru lantang: "Akan kuteruskan perjuanganmu. Papa...." Semua menjadi terharu jadinya.

Ketika terjadi peristiwa 30 September 1965 tengah rnalam menuju dini hari 1 Oktober Hotmangaradja baru berusia 12 tahun. Dia menyaksikan sendiri pasukan G30S/PKI menyerbu ke rumah kediaman mereka dijalan Sultan Hasanuddin, Blok M, Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Tentara Cakra memaksa membawa sang jenderal, Ayahada D.I. Pandjaitan dengan alasan dipanggil Presiden Soekarno. Hotmangaradja tak akan pernah lupa Ayahnya yang mengenakan seragam jenderal ditembak mati dihalaman rumah ketika sedang berdiri dalam posisi berdoa.

Selama 44 lahun lebih keenam anak-anak D.I. Pandjaitan mampu bertahan dari bayangan buruk masa lalu semata-mata karena dibesarkan oleh Ibunda Marieke br. Tambunan dengan penuh kasih. Marieke lelah berperan sebagai orangtua tunggal dengan sangat mengasihi anak-anaknya.

Sejak 2 Mei 2009 Hotmamangaradja harus merelakan kehilangan Ibunda., yang meninggal karena sakit dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Tentang Ibunda Hotmamangaradja mengatakan, doa wanita pejuang yang baik hati dan super tabah itu adalah kata kunci keberhasilannya dalam mengarungi karir militer. Kesadaran ini muncul baru belakangan, sebab ladinya semasa muda Oce bersama saudara kandung merasa segala keberhaslan yang diraih adalah karena kebolehan-kebolehan dan kehandalan yang dimiliki. Barulah setelah dewasa disadari semua itu karena doa Ibunda. Ny Marieke Pandjaitan br. Tambunan kelahiran Porsea 1 April 1926.

"Waktu muda kita merasa punya kebolehan-kebolehan, merasa berhasil dalam tugas, merasa berhasil dalam karir, saya mengira saya yang punya kebolehan atau kehebatan itu. Tapi kemudian setelah semakin dewasa saya sadar bahwa semuanya sejak saya masuk Akademi Militer, sampai saya menjadi jenderal adalah sernata-mata karena doa Ibu saya, Bukan karena saya tetapi karena doa Ibu yang rninta kepada Tuhan untuk saya supaya diberikan kekuatan kemampuan dan kehandalan," tegas Hotma. Hotmamangaradja rnenikah dengan Catharina Dwiastuti seorang wanita Jawa yang lelah diberi marga boru Tambunan. Keduanya dikaruniai dua orang anak laki-laki yaitu Lettu Abraham Sada Mangaradja Pandjaitan dan Letda Jeremiah Sesa Mangaradja Pandjaitan.


TERUSKAN TRADISl MILITER


Ketika pada hari jumat 9 April 2010 dilaksanakan upacara serah-terima jabatan Panglima Kodam IX/Udayana, dan Mayjen TNI Hormangaradja kepada BrigjenTNl Rachmat Budiyanto, dipimpin oleh KASAD Jenderal TNI George Toisutta, rasanya, belum lama berselang peristiwa sejenis berlangsung. Bedanya, pada hari Kamis 26 Juni 2008 berlangsung di tempat yang sama Lapangan Puputan Badung, Bali dua orang pria Batak saling serah-terima jabatan. Jabatan Pangdam IX/Udayana yang semula dijabat oleh Mayjen TNI GR Situmeang. diserahkan kepada Mayjen TNI Hotmangaraja Panjaitan.

Mayjen TNI Hotmangaraja Panjaitan ditetapkan sebagai Pangdam IX/ Udaya berdasarkan Surat Keputuaan Panglima TNI Nomor Kep/253/V/ 2008 tertanggal 29 Mei 2008. Mayjen TNI GR Situmeang selanjutnya memegang jabatan Inspektur Jenderal TNI AD (Irjenad).

Karir Hotmangaraja terbilang cepat Bersama rekannya Hotma Marbun, keduanya merupakan gerbong pertama dari Angkatan 1977 yang Iebih awal masuk jajaran Pati. Ada yang berpendapat perjalanan karir mereka merupakan model dalam mempromosikan seorang perwira di masa depan, yakni perwira yang mempunyai pengalaman tugas-tugas internasional.

Satu hal terindah yang tidak akan pernah dilupakan Hotmangaradja seumur hidup adalah saat dipercaya menjadi Komandan Upacara Peringatan HUT ke-46 TNI tahun 2001 di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta. Presiden Megawati Soekarno putri bertindak sebagai Inspektur Upacara.

Dengan gagah berani, lantang, dan penuh wibawa Hotmangaradja berteriak nyaring dan lantang untuk meneriakkan "Siaaaaaaap graaaaaaaak ." Teriakannya menggema dan menggentarkan seluruh peserta upacara. Saat itu Hotmangaraja memang sangat bersemangat setelah mendapat kepercayaan sebagai komandan upacara.

Ia, yang berpangkat Kolonel terdengar memberikan laporan penghormatan kepada Megawati selaku inspektur upacara. Mungkin saja saat itu belum banyak orang yang mengetahui sosok dan karir militer seorang perwira dan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) tersebut, yang bangga mendapat penghargaan, sekaligus kebahagiaan menjadi Komandan Upacara peringatan Hari UlangTahun ke-56 TNI. Kini,kebahagiaan Hotmangaradja tentu saja sudah berlipat kali ganda. Sebab sang Komandan Upacara bukan lagi Kolanel, melainkan sudah Letnan Jenderal TNI.

Hotmangaradja menolak jika disebut semua hal militer yang diraihnya berkaitan dengan nama besar Ayahnya. Misalnya saja saat mendapat kehormatan untuk menjadi Komandan Upacara, waktu itu Hotma harus mengikuti seleksi yang cukup ketat dari ketiga angkatan.

Ia berhasil mengungguli delapan lawan tangguh dari tiga angkatan yang diseleksi oleh Garnisun Tetap (Gartap) Ibukota, untuk kemudian ekstra keras melakukan latihan sejak Juli demi menghasilkan yang terbaik.

“Itu. tugas pertama saya menjadi Komandan Upacara pada HUT TNI. Tentu saja saya bangga karena mendapat kepercayaan. Dan ini merupakan hal terindah dalam hidup saya selama menjadi tentara," ucapnya.

Hotmangaradja mengatakan sekalipun, Ayahnya lahir dari seorang Kakek yang berprofesi sebagai pedagang di sebuah kampung di Porsea, namun, karena revolusi sedang bergolak kuat pada masa itu D.I. Pandjaitan terdorong untuk bergabung dengan BKR, lalu TKR, dan kemudian TNI.

Dari rintisan yang dilakukan DI Pandjaitan itulah banyak dikenal perwira-tinggi militer orang Batak, secara khusus mereka yang bermarga Pandjaitan. Pada umumnya mereka sangat disegani pada masa-masa pengabdiannya, maupun sesudahnya. Seperti, Letjen TNI (Purn) Sintong Pandjaitan, Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan, dan kini Letjen TNI Hotmangaradja Pandjaitan.

Yang menarik, kedua anak Hotmangaradja turut mengikuti jejak Kakek dan Ayahnya itu, yaitu Letnan Satu TNI Abraham Pandjaitan dan Letnan Dua TNI Jeremiah Sesa Pandjaitan.

“Jadj, pada awalnya pun Ayah saya merantau meninggalkan kampung halaman bukan dengan tradisi militer. Tapi kemudian, setelah memasuki militer beliau melanjutkan, dan setetah beliau pergj saya merasa punya kerterpanggilan untuk melanjutkan juga,” kata Hotma tentang dirinya.

"Dan kebetulan putra-putra saya, anak-anak saya yang dua orang itu mempunyai sejarah tersendiri. Mungkin juga karena lingkungan, dan orangtuanya, sehingga membuat mereka walaupun sebelumnya sudah memilih jalur pengabdian lain, dengan mempersiapkannya melalui kuliah, tetapi, ternyata akhirnya kembali ke jalur militer," Jalas Hotma.

Tak ada yang lebih indah bagi Hotma selain mengenang perjalanan hidupnya yang unik. lapun bertekad untuk menatap masa depan dengan lebih indah lagi. Warisan yang paling indah diakuinya diterima dari Sang Ayah yaitu sebuah pribadi yang layak ditiru, Terutama soal semangat juang, sikap bijak, dan sikap sebagai orang yang taat pada agama. ”Ayah selalu mengawaIi sesuatu dengan keimanan. Ora et labora” ungkap Hotma.

Karena itulah Hotmangaradja merasa perlu memandang peristiwa pahit yang memisahkan dia dengan Ayahnya terkait peristiwa Gerakan 30 September 1965/PKl dengan jiwa yang besar. Tidak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya untuk bersikap dendam atas peristiwa sebut.

"Sejak saya masuk militer sudah dididik untuk tidak punya rasa dendam. Baik dari militer maupun agama sudah diterapkan. Tapi namanya manusia, semua itu bisa ditekan. Semakin dewasa semakin kita tahu segala sesuatu dengan lebih matang,” ucapnya.

Hotma mengingatkan peristiwa G/30 S-PKI yang sudah berlalu puluhan tahun tetap harus diwaspadai. "Mereka bisa menjelma dalam berbagai bentuk dan dalam berbagai kesempatan serta keperluan. Karena itu. kepekaan untuk mencegah peristiwa serupa harus tetap diasah, Dan yang patut diwaspadai di masyarakat saat ini adalah agar tidak terjebak dalam berbagai cara mereka untuk menarik simpati,” kata Letjen TNI Hotmangaradja Pandjaitan.



Nama Lengkap : Letjen TNI Hotmangaradja Pontas Pandjaitan
Jabatan : Sekretaris Kementerian Koordinator Politik dan Keamanan, sejak April 2010
Lahir : Palembang, 14 Oktober 1953 sebagai anak keempat dari enam bersaudara
Orangtua : Ayah MayjenTNI Donald Isaac Pandjaitan, Pahlawan Revolusi korban G 30/S-PKI
Ibu Marieke Pandjaitan br. Tambunan, wafat 2 Mei 2009
Istri : Catharina Dwiastuti br. Tambunan
Anak : - Abraham Sada Mangaradja Pandjaitan, Lettu TNI
- Jeremiah Sesa Mangaradja Pandjaitan, Letda TNI

    Saudara Kandung :

  1. Katherine br. Pandjaitan, menikah dengan Leonard Panggabean
  2. Masa Arestina br Pandjaitan, menikah dengan Argalaus Marbun
  3. Salomo Pandjaitan, menikah dengan Dr. Martha L.D. Tambunan
  4. Letjen TNI Hotmangaradja Pontas Pandjaitan, menikah dengan Dwi Astuti
  5. Tuty br. Pandjaitan
  6. Riri Budiasri br. Pandjaitan, menikah dengan Edward Saud Perlindungan Panggabean

Belajar Online

MATERI
PEMBAHASAN UN
PEMBAHASAN SNMPTN

Matematika
"Suku Banyak"

Matematika
"Soal UN Tahun 2012"

Matematika
"Soal SNMPTN Tahun 2012"

Fisika
"Kinematika Analisi Vektor"

Fisika
"Soal UN Tahun 2012"

Fisika
"Soal SNMPTN Tahun 2012"

Kimia
"Sifat Koligatif Larutan Elektrolit"

Kimia
"Soal UN Tahun 2012"

Kimia
"Soal SNMPTN Tahun 2012"

Biologi
"Sel"

Biologi
"Soal UN Tahun 2012"

Biologi
"Soal SNMPTN Tahun 2012"

Link :